Program Perkuliahan Karyawan
UNIVERSITAS KRISNADWIPAYANA

UNIVERSITAS KRISNADWIPAYANA

UNKRIS
Karier dan Pendidikan

Tanda Drafter Bangunan Siap Melanjutkan Kuliah S1 Arsitektur

Kenali tanda drafter bangunan siap kuliah jurusan S1 Arsitektur, dari melatih gagasan ruang dan menerima kritik hingga menyiapkan kuliah sambil bekerja.

Tanda Drafter Bangunan Siap Melanjutkan Kuliah S1 Arsitektur

Bekerja sebagai drafter bangunan membuat seseorang terbiasa menerjemahkan banyak informasi menjadi gambar.

Ada ukuran yang harus tepat.

Ada denah yang perlu diperbarui.

Ada revisi dari atasan atau tim proyek.

Ada bagian gambar yang harus disesuaikan karena kebutuhan di lapangan berubah.

Semakin lama bekerja, biasanya semakin cepat pula kamu memahami instruksi dan menindaklanjuti revisi.

Kamu mulai terbiasa membaca gambar.

Mengetahui posisi ruang.

Memahami perubahan ukuran.

Dan melihat hubungan antarbagian bangunan dari dokumen yang sedang dikerjakan.

Namun, pada titik tertentu, pertanyaan baru bisa mulai muncul.

Mengapa ruang ini ditempatkan di bagian tersebut?

Bagaimana membuat susunan ruang yang lebih nyaman digunakan?

Mengapa sebuah rancangan perlu direvisi meskipun secara gambar sudah terlihat benar?

Bagaimana sebuah gagasan ruang berkembang menjadi rancangan bangunan?

Ketika pertanyaan seperti itu semakin sering muncul, mungkin kebutuhan belajarmu mulai bergerak lebih jauh.

Kamu tidak hanya ingin semakin terampil menggambar.

Kamu mulai ingin memahami bagaimana sebuah ruang dan bangunan dirancang.

Bagi drafter yang sudah bekerja, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu tanda bahwa S1 Arsitektur mulai relevan untuk dipertimbangkan.

 

Saat pekerjaan drafter mulai menuntut pemahaman yang lebih dalam

Coba ingat kembali salah satu revisi denah yang pernah kamu kerjakan.

Mungkin awalnya terlihat sederhana.

Sebuah ruang diperbesar.

Pintu dipindahkan.

Posisi dinding berubah.

Atau susunan beberapa area perlu disesuaikan.

Sebagai drafter, tugasmu mungkin memastikan perubahan tersebut tergambar dengan benar.

Namun, setelah sering menerima revisi, bisa muncul rasa ingin tahu.

Mengapa ruang ini harus diperbesar?

Mengapa jalur masuk perlu dipindahkan?

Mengapa hubungan antara dua ruang dianggap kurang baik?

Mengapa rancangan yang secara ukuran sudah masuk masih perlu diubah?

Pertanyaan tersebut menunjukkan perubahan yang penting.

Kamu mulai tidak hanya melihat gambar sebagai kumpulan garis dan ukuran.

Kamu mulai tertarik pada alasan di balik susunan ruang.

Dari sinilah pengalaman drafting dapat berkembang menjadi kebutuhan belajar mengenai perancangan.

 

Kamu mulai bisa menjelaskan tujuan melanjutkan kuliah

Keinginan melanjutkan kuliah akan terasa lebih kuat ketika kamu mengetahui kemampuan apa yang ingin dikembangkan.

Bukan hanya:

“Saya ingin punya gelar S1.”

Tetapi:

“Saya ingin mendalami perancangan ruang dan bangunan agar pengalaman menggambar yang sudah saya miliki dapat berkembang.”

Atau:

“Saya ingin memahami alasan di balik rancangan, bukan hanya menindaklanjuti gambar yang sudah ditentukan.”

Tujuan seperti ini mempunyai hubungan yang jelas dengan pekerjaan.

Coba lihat kembali aktivitas yang selama ini kamu lakukan.

Apakah paling sering menggambar denah?

Membuat revisi?

Mengikuti perubahan dari tim proyek?

Menyusun gambar berdasarkan arahan?

Atau menyesuaikan dokumen dengan kondisi lapangan?

Kemudian tanyakan:

“Dari semua pekerjaan ini, bagian apa yang paling ingin saya pahami lebih dalam?”

Mungkin jawabannya adalah tata ruang.

Mungkin hubungan antara fungsi dan bentuk.

Mungkin cara menyusun gagasan sebelum gambar dibuat.

Satu tujuan yang jelas sudah cukup untuk memberi arah pada keputusan pendidikan.

 

Kamu mulai mempunyai gagasan ruang sendiri

Salah satu tanda bahwa kebutuhan belajarmu mulai berkembang adalah ketika kamu tidak hanya menerima instruksi.

Kamu mulai mempunyai gagasan.

Misalnya saat melihat sebuah denah, kamu berpikir:

“Bagaimana kalau ruang ini dipindahkan?”

Atau:

“Kalau jalurnya dibuat seperti ini, mungkin hubungan antar ruang bisa berbeda.”

Gagasan tersebut belum harus sempurna.

Kamu juga tidak harus langsung tahu apakah usulanmu merupakan pilihan terbaik.

Yang penting, kamu mulai melihat bahwa sebuah gambar dapat mempunyai banyak alternatif.

Dari sini, kamu bisa mencoba latihan sederhana.

Ambil contoh ruang yang tidak berkaitan dengan dokumen rahasia perusahaan.

Misalnya rumah sederhana.

Buat satu susunan ruang.

Kemudian coba buat alternatif kedua.

Apa yang berubah?

Bagaimana hubungan antar ruangnya?

Apa alasanmu mengubah posisi tersebut?

Latihan seperti ini membantu menggeser cara berpikir dari sekadar menggambar sesuatu yang sudah diputuskan menuju memikirkan alasan sebuah rancangan dibuat.

 

Kamu bersedia menerima kritik terhadap rancangan

Bagi orang yang terbiasa membuat gambar teknis, revisi sebenarnya bukan sesuatu yang asing.

Namun, menerima kritik terhadap gagasan bisa terasa berbeda.

Ketika gambar direvisi karena ukuran salah, persoalannya cukup jelas.

Tetapi ketika seseorang mengatakan:

“Susunan ruangnya belum efektif.”

Atau:

“Gagasannya masih bisa dikembangkan.”

Jawabannya tidak selalu sesederhana memperbaiki satu angka.

Kamu perlu mendengarkan alasan.

Memahami sudut pandang lain.

Kemudian memikirkan kembali rancangan yang dibuat.

Karena itu, salah satu tanda kesiapan belajar Arsitektur adalah ketika kamu mulai nyaman dengan proses:

membuat gagasan;

menjelaskan alasannya;

menerima masukan;

lalu memperbaiki rancangan.

Kritik tidak harus dilihat sebagai penolakan terhadap kemampuanmu.

Dalam proses belajar, masukan dapat membantu melihat sesuatu yang sebelumnya belum terpikirkan.

 

Kamu mulai bertanya “mengapa ruangnya seperti ini?”

Drafter yang berpengalaman biasanya cukup cepat membaca sebuah denah.

Namun, ketika minat terhadap perancangan mulai tumbuh, cara membaca denah juga berubah.

Kamu mulai bertanya:

Mengapa pintu masuk ditempatkan di sini?

Mengapa ruang tertentu saling berdekatan?

Mengapa area lain justru dipisahkan?

Bagaimana orang akan bergerak di dalam bangunan?

Bagian mana yang menjadi pusat aktivitas?

Pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa kamu mulai melihat denah sebagai representasi dari penggunaan ruang.

Bukan hanya gambar.

Ada aktivitas.

Ada hubungan antar ruang.

Ada orang yang nantinya menggunakan bangunan.

Semakin banyak pertanyaan seperti ini muncul, semakin kuat pula kebutuhan untuk mempelajari perancangan secara lebih terstruktur.

 

Kamu mulai melihat revisi sebagai proses pengembangan gagasan

Dalam pekerjaan drafting, revisi kadang terasa melelahkan.

File baru selesai.

Kemudian ada perubahan.

Setelah direvisi, muncul perubahan berikutnya.

Namun, jika dilihat dari sudut yang berbeda, revisi juga dapat menjadi proses belajar.

Coba perhatikan:

Apa yang berubah?

Mengapa bagian itu diubah?

Masalah apa yang ingin diselesaikan?

Apakah perubahan tersebut berkaitan dengan fungsi ruang?

Ukuran?

Kebutuhan pengguna?

Atau penyesuaian proyek?

Kamu tidak harus mengetahui semua jawabannya.

Tetapi kebiasaan mempertanyakan alasan revisi dapat memperkaya cara melihat sebuah rancangan.

Daripada hanya mengatakan:

“Ada revisi lagi.”

Kamu mulai bertanya:

“Apa yang bisa saya pelajari dari perubahan ini?”

Pengalaman kerja kemudian tidak lagi hanya menghasilkan gambar.

Ia mulai menghasilkan pemahaman.

 

Kamu mulai membedakan kemampuan menggambar dengan kemampuan merancang

Mampu menggambar dengan baik merupakan kemampuan yang penting bagi drafter.

Namun, menggambar dan merancang bukan hal yang sepenuhnya sama.

Dalam drafting, kamu banyak bekerja untuk memastikan informasi visual tersampaikan dengan tepat.

Dalam perancangan, ada pertanyaan tambahan.

Apa yang ingin dicapai?

Bagaimana ruang digunakan?

Bagaimana kebutuhan diterjemahkan menjadi susunan?

Apa alternatif yang tersedia?

Mengapa satu alternatif dipilih?

Ketika mulai menyadari perbedaan tersebut, kamu mungkin juga semakin memahami alasan ingin melanjutkan pendidikan.

Bukan karena kemampuan drafting yang sudah dimiliki tidak berguna.

Justru pengalaman tersebut dapat menjadi dasar.

Namun, kamu ingin menambahkan kemampuan berpikir mengenai ruang dan bangunan secara lebih luas.

 

Kamu mulai nyaman menjelaskan alasan di balik pilihan desain

Salah satu latihan yang dapat dilakukan sebelum kuliah adalah mencoba menjelaskan alasan.

Misalnya kamu membuat sebuah denah sederhana.

Jangan berhenti pada gambar.

Coba jawab:

Mengapa ruang utama ditempatkan di sana?

Mengapa pintu berada di posisi tersebut?

Mengapa area tertentu dibuat lebih luas?

Apa yang ingin dicapai dari susunannya?

Tidak harus menggunakan istilah arsitektur yang rumit.

Gunakan bahasa sendiri.

Tujuannya adalah melatih kebiasaan bahwa sebuah keputusan desain sebaiknya mempunyai alasan.

Ketika seseorang kemudian memberikan masukan, kamu juga mempunyai dasar untuk berdiskusi.

Bukan sekadar:

“Saya suka seperti ini.”

Tetapi:

“Saya memilih susunan ini karena…”

Kebiasaan seperti ini cukup membantu ketika mulai belajar perancangan lebih serius.

 

Kamu bersedia kembali belajar dari dasar

Pengalaman sebagai drafter tentu memberi modal yang berharga.

Namun, masuk S1 Arsitektur tetap berarti kamu akan bertemu bagian yang mungkin belum dikuasai.

Data program menunjukkan bahwa persiapan dapat mencakup matematika, fisika, gambar teknik, dan perangkat desain.

Jika berasal dari SMA/MA IPA atau SMK Konstruksi, Desain Pemodelan Bangunan, Survei, maupun bidang teknik terkait, sebagian materi mungkin sudah cukup familiar.

Jika berasal dari jurusan lain, proses persiapannya tetap dapat dilakukan bertahap.

Kamu bisa mulai dari kemampuan yang paling dekat.

Perkuat gambar teknik.

Biasakan membaca ukuran.

Latih penggunaan perangkat desain yang relevan dengan pekerjaan.

Kembali pada dasar matematika atau fisika yang mulai terlupakan.

Kesiapan kuliah bukan berarti seluruh hal tersebut harus sudah dikuasai.

Yang lebih penting adalah kamu bersedia kembali belajar.

 

Kamu mulai mengumpulkan referensi dan membandingkan rancangan

Ketika rasa ingin tahu terhadap arsitektur berkembang, kamu mungkin mulai memperhatikan bangunan dengan cara berbeda.

Bukan sekadar:

“Bangunannya bagus.”

Tetapi:

Apa yang membuatnya terasa menarik?

Bagaimana ruang disusun?

Bagaimana fungsi yang berbeda ditempatkan?

Apa yang bisa dipelajari dari rancangan tersebut?

Kamu dapat mulai membuat koleksi referensi pribadi.

Tidak harus banyak.

Ambil beberapa contoh.

Kemudian tuliskan satu hal yang menarik dari masing-masing.

Tujuannya bukan meniru.

Tujuannya melatih kemampuan mengamati.

Semakin banyak mengamati, semakin banyak pula pertanyaan yang dapat muncul untuk dipelajari.

 

Kamu memahami hubungan S1 Arsitektur dengan pekerjaanmu

Program S1 Arsitektur Universitas Krisnadwipayana mempelajari perancangan bangunan yang fungsional, aman, dan menarik.

Bagi drafter bangunan, bidang tersebut mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan pengalaman sehari-hari.

Kamu sudah terbiasa menggambar denah.

Kamu menangani revisi.

Kamu bekerja dengan ukuran dan hubungan antarbagian bangunan.

Namun, pendidikan Arsitektur membawa pengalaman tersebut menuju pemahaman yang lebih luas mengenai perancangan ruang dan bangunan.

Jika sedang mempertimbangkan program ini, kamu dapat melihat informasi S1 Arsitektur UNKRIS.

Saat membaca program tersebut, hubungkan dengan pekerjaanmu.

Misalnya:

“Saya sudah terbiasa membuat gambar berdasarkan arahan, tetapi ingin memahami cara membangun gagasan ruang.”

Atau:

“Saya ingin lebih mampu melihat alasan di balik revisi rancangan, bukan hanya menggambar ulang perubahannya.”

Hubungan seperti ini membuat tujuan belajar menjadi lebih konkret.

 

Kamu mulai menyiapkan diri menghadapi proses revisi yang berulang

Jika sehari-hari sudah menjadi drafter, revisi bukan hal baru.

Namun, proses belajar perancangan dapat menuntut kesiapan mental yang berbeda.

Kamu mungkin membuat suatu gagasan.

Kemudian mendapat masukan.

Mengubahnya.

Mendapat pertanyaan lagi.

Lalu memperbaikinya kembali.

Kesiapan di sini bukan berarti harus selalu setuju dengan semua kritik.

Tetapi bersedia mendengarkan dan memikirkan alasannya.

Coba biasakan bertanya:

Apa yang dikritik?

Apa alasan kritik tersebut?

Bagian mana yang memang perlu dipikirkan kembali?

Apa yang ingin dipertahankan dan mengapa?

Dengan begitu, revisi tidak hanya menjadi pekerjaan tambahan.

Ia menjadi bagian dari proses pengembangan gagasan.

 

Kamu mulai menyiapkan cara kuliah sambil tetap bekerja

Setelah alasan belajar semakin jelas, kesiapan berikutnya bersifat praktis.

Data program mencantumkan jadwal kelas malam:

Senin: 18.30–21.00
Selasa: 18.30–21.00
Kamis: 18.30–21.00

Mulailah dengan melihat jadwal kerja.

Jam berapa biasanya selesai?

Seberapa sering harus lembur?

Berapa waktu perjalanan dari tempat kerja?

Apakah pekerjaan proyek mempunyai periode tertentu yang lebih sibuk?

Kemudian pikirkan waktu belajar di luar kelas.

Ada latihan.

Ada tugas.

Ada waktu untuk mengembangkan gagasan dan memperbaiki pekerjaan.

Karena itu, jangan hanya melihat apakah jam kuliah tidak bertabrakan dengan jam kerja.

Lihat juga apakah masih ada ruang yang cukup untuk menjalani proses belajar secara konsisten.

 

Kamu mulai menyiapkan biaya pendidikan

Perencanaan biaya membuat keputusan kuliah semakin konkret.

Data program mencantumkan:

Biaya formulir: Rp100.000

Herregistrasi: Rp1.600.000

Sehingga total biaya awal sebesar Rp1.700.000.

Tersedia pula simulasi enam kali angsuran sebesar Rp1.600.000 per bulan.

Selain biaya tersebut, kamu dapat memperhitungkan kebutuhan pribadi seperti perjalanan, internet, perangkat, dan kebutuhan belajar lain yang mungkin muncul.

Perencanaan sederhana sejak awal membantu melihat apakah ritme pembiayaan dapat diselaraskan dengan kondisi pekerjaan.

 

Kamu mulai menyiapkan pola belajar yang realistis

Bekerja sambil kuliah berarti tidak semua tugas bisa dikerjakan dalam satu waktu panjang.

Kamu dapat mulai membangun pola yang lebih realistis.

Misalnya:

satu sesi membaca atau mencari referensi;

satu sesi latihan gambar;

satu sesi mengembangkan gagasan;

dan waktu khusus untuk memperbaiki hasil setelah menerima masukan.

Tidak harus setiap hari.

Yang penting ada ritme.

Jika pekerjaan sedang padat, pola dapat disesuaikan.

Tetapi kebiasaan belajar tetap dipertahankan.

 

Empat pertanyaan untuk melihat kesiapanmu

Tidak ada skor tertentu yang menentukan seseorang sudah siap masuk S1 Arsitektur.

Namun, empat pertanyaan berikut dapat membantu refleksi:

  1. Apakah saya sudah mengetahui alasan ingin melanjutkan S1 Arsitektur?
  2. Apakah saya mulai tertarik mengembangkan gagasan ruang, bukan hanya menggambar instruksi?
  3. Apakah saya bersedia menerima kritik dan memperbaiki rancangan?
  4. Apakah saya mulai mempunyai rencana waktu, biaya, dan kebiasaan belajar?

Tidak harus seluruh jawabannya sempurna.

Kesiapan dapat berkembang secara bertahap.

Yang penting, keinginan kuliah mulai terlihat melalui tindakan.

 

Pengalaman sebagai drafter dapat menjadi modal belajar

Ketika masuk kuliah, kamu tidak datang tanpa pengalaman.

Kamu sudah terbiasa melihat denah.

Pernah menangani revisi.

Pernah bekerja dengan ukuran.

Pernah mengikuti perubahan proyek.

Mungkin juga sudah menggunakan perangkat desain dalam pekerjaan.

Pengalaman tersebut memberikan konteks.

Ketika mempelajari perancangan ruang, kamu sudah mempunyai pengalaman membaca gambar.

Saat mendiskusikan revisi, kamu memahami bahwa sebuah gambar dapat berubah berkali-kali.

Ketika menerima kritik terhadap rancangan, kamu juga tidak sepenuhnya asing dengan proses perbaikan.

Pengalaman drafting tidak perlu ditinggalkan.

Ia dapat menjadi pijakan untuk bergerak menuju pemahaman perancangan yang lebih luas.

 

Langkah kesiapan berikutnya bersama UNKRIS

Bagi drafter bangunan dan pekerja bidang konstruksi, infrastruktur, atau perencanaan yang ingin melanjutkan pendidikan sambil tetap bekerja, salah satu program yang dapat dipelajari adalah S1 Arsitektur Universitas Krisnadwipayana.

Data program mencantumkan jalur SB.

Karena sumber yang tersedia belum menjelaskan kepanjangan maupun ketentuan jalur SB tersebut, informasi mengenai bentuk program dan persyaratannya sebaiknya dikonfirmasi langsung kepada pihak PMB UNKRIS.

Program Studi S1 Arsitektur pada data yang tersedia tercatat berakreditasi Baik, sedangkan institusi Universitas Krisnadwipayana tercatat berakreditasi B.

Lulusannya memperoleh gelar Sarjana Teknik (S.T.).

Perkuliahan menggunakan metode Blended Learning dengan jadwal:

Senin: 18.30–21.00
Selasa: 18.30–21.00
Kamis: 18.30–21.00

Untuk pembiayaan, data program mencantumkan biaya awal sebesar Rp1.700.000, terdiri dari formulir Rp100.000 dan herregistrasi Rp1.600.000.

Tersedia pula simulasi enam kali angsuran sebesar Rp1.600.000 per bulan.

Kamu dapat mempelajari bidang studinya melalui halaman Program S1 Arsitektur UNKRIS.

Informasi mengenai kampus dan program lainnya juga tersedia melalui website Universitas Krisnadwipayana.

Sebelum mengambil langkah berikutnya, coba pilih satu denah sederhana yang tidak mengandung dokumen rahasia pekerjaan.

Buat satu alternatif susunan.

Kemudian tanyakan:

Apa yang saya ubah?

Mengapa saya mengubahnya?

Bagaimana perubahan tersebut memengaruhi hubungan antar ruang?

Setelah itu, mintalah seseorang memberikan masukan.

Perhatikan responsmu sendiri.

Apakah kritik membuatmu hanya ingin mempertahankan gambar awal?

Atau justru membuatmu tertarik melihat alternatif lain?

Jika proses mengembangkan gagasan, menjelaskan alasan, dan menerima masukan terasa menarik, kamu dapat mempelajari kembali S1 Arsitektur UNKRIS untuk pekerja sambil membawa daftar tujuan dan kebutuhan belajar yang ingin dikembangkan.

 

Tanda siap melanjutkan kuliah tidak berarti kamu sudah mampu merancang bangunan dengan sempurna.

Bagi drafter, kesiapan dapat terlihat ketika pengalaman menggambar mulai membuatmu bertanya tentang ruang, kamu mulai mempunyai gagasan sendiri, dan kamu bersedia melihat rancanganmu dikritik lalu dikembangkan kembali.

Dari situlah perjalanan dari menggambar bangunan menuju mempelajari perancangan bangunan dapat mulai tumbuh.